KATA-KATA BIJAK DAN MOTIVASI

Jumat, 29 Januari 2016

DARI MENANGANGI KLIEN FOBIA TERHADAP TATO, KAMI MENJADI PAHAM TENTANG BAGAIMANA MEREKA DAPAT BERUBAH MENJADI TERORIS




Siang hari ini (Jumat, 29 Januari 2016), kami menangani klien yang kasusnya cukup unik, yaitu mengalami fobia terhadap tato, dan dikatakan level fobianya sudah akut sehingga menjalar ke mana-mana. Klien tersebut sudah mengalami fobia terhadap tato ini selama 10 tahun. Dan sungguh sangat mengganggu.

Awal dirinya mengalami fobia terhadap tato ini adalah berawal dari sebuah pandangan bahwasannya tato adalah najis. Pandangannya ini bukan hanya menganggap mentato diri sendiri adalah najis, melainkan bersalaman atau bersentuhan dengan orang yang bertato pun juga najis. Bahkan hingga menyentuh atau mengkonsumsi barang yang telah disentuh oleh orang yang bertato pun juga dianggapnya najis. Dia tidak segan-segan untuk membuang barang-barang yang telah disentuh oleh orang yang bertato, apalagi jika orang tersebut memiliki tato di tangannya.

Menurutnya, tato itu najis bukan hanya karena mentato/mengukir tubuh kita untuk kemudian diwarnai dengan tinta khusus, melainkan juga menganggap cat/tinta tatonya tersebut adalah najis. Dan ia beranggapan bahwa jika dirinya bersentuhan dengan dirinya atau jika ia menyentuh benda yang disentuh oleh orang yang bertato, maka ia juga akan terkena tinta yang najis tersebut.
Kami mencoba mengetes seberapa parah fobianya ini. Kami pun pergi ke ruang sebelah ruang terapi dan mengenakan tangan saya dengan tinta spidol. Kemudian kami kembali ke ruangan terapi. Dan mengajak klien tersebut bersalaman sambil sengaja memperlihat dengan jelas tinta pada tangan saya tersebut. Dan spontan, ia menarik tangannya, enggan bersalaman dengan saya. Kemudian dia bertanya, “itu tinta apa?” Bahkan meskipun kemudian diberitahu kalau itu adalah tinta spidol, ia masih takut atau tidak mau bersalaman. Untuk memastikan bahwa ia tidak punya masalah disentuh dengan seseorang, saya mencoba menyentuhnya dengan tangan lain yang tidak ada tinta. Dan dia tidak masalah ketika saya sentuh atau ajak salaman dengan tangan saya yang satu lagi yang tidak terkena tinta.

Hasil tes kami ini menujukkan bahwa level fobianya sudah akut. Fobianya bukan hanya fobia terhadap tato, tapi meluas menjadi fobia terhadap tinta, terutama tinta yang tidak diketahui darimana sumbernya.

Dari menangani klien yang fobia terhadap tato ini, kami menjadi paham bagaimana orang bisa menjadi TERORIS ?

Kami yakin bahwa para teroris ini menjadi teroris berangkat dari sebuah paham atau mindset bahwa orang di luar islam atau orang kafir adalah najis, seperti halnya klien kami yang menganggap tato adalah najis.

Mereka pun yakin bahwa bersentuhan dengan orang non muslim atau orang kafir adalah najis, seperti halnya klien kami yang beranggapan bahwa berssentuhan dengan orang bertato adalah najis.

Mereka juga beranggapan bahwa barang-barang yang disentuh oleh orang non muslim atau orang kafir menjadi najis, seperti halnya klien kami yang beranggapan bahwa barang-barang yang disentuh oleh orang yang bertato (terutama yang bertato di bagian tangan) menjadi najis.

Oleh karena itu, menjadi haram atau terkena najis jika menyentuh barang yang disentuh oleh orang non muslim atau kafir, seperti halnya klien kami yang menganggap yang menganggap najis barang barang yang telah disentuh oleh orang yang bertato (terutama yang bertato di bagian tangan).

Nah poin penting adalah pada sikap dan reaksi selanjutnya.

Sikap dan reaksi klien kami adalah tidak segan-segan membuang barang-barang yang telah disentuh oleh orang yang bertato, terutama yang bertato di bagian tangan.

Lalu kira-kira, apa atau bagaimana sikap dan reaksi dari mereka-mereka yang berawal dari sebuah pandangan menganggap orang non muslim atau orang kafir adalah najis ?

Dengan ditambah doktrin-doktrin tertentu atas nama agama, tidak menutup kemungkinan, mereka-mereka ini akan membunuh orang-orang yang dianggap kafir. Bahkan lebih dari itu, mereka-mereka tidak segan-segan menghancurkan properti atau barang-barang yang dianggapnya milik orang kafir. Baginya, menhancurkan properti atau barang-barang yang sering kali juga digunakan oleh orang lain (terutama muslim) merupakan sebuah upaya menghilangkan najis, sebuah upaya pemurnian kehidupan dari sesuatu yang menurutnya adalah najis.

Ditambah dengan iming-iming akan memperoleh bidadari surga serta kesulitan ekonomi, nampaknya semakin membuat mereka-mereka ini rela melakukan aksi terorisnya.

Jika Anda memiliki pandangan seperti di atas, menganggap sesuatu itu najis sehingga bersentuhan dengannya pun adalah najis, kami ingin mengajukan satu pertanyaan saja, bukankah jika kita terkena najis maka kita dapat mensucikan diri kita atau mensucikan barang yang kita anggap terkena najis tersebut ?

Dan alhamdulillah, dengan menggabung berbagai teknik terapi, terutama teknik graphotherapy dan EFT, kami berhasil membantu klien kami untuk lepas dari masalah fobianya terhadap tato.

Satu hal yang juga dapat saya tarik hikmah dari menangani klien yang fobia terhadap tato ini adalah jangan anggap remeh terhadap sebuah masalah psikologi. Seperti halnya masalah fisik atau penyakit yang dapat semakin parah dan menjalar ke mana-mana, masalah psikologis pun demikian, ia dapat meluas dan menjalar ke mana-mana. Oleh karena itu, jika Anda memiliki masalah, segeralah atasi !

Semoga artikel ini dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya buat kita semua. Amiin.


Salam Grapho. Salam Perubahan yang Lebih Baik. Salam Sukses Bahagia.


Max Hendrian Sahuleka

Founder Primagraphology Consulting & Primalatherapy Center

Penulis Buku “The Power of Signature : Mengenal dan Mengubah Diri melalui Tanda Tangan”

HP / Whatsapp : 081318243521, 081905272919

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

POSTINGAN TERBARU

ARTIKEL-ARTIKEL :

OUR SOCIAL MEDIA

OUR FANPAGE FACEBOOK

OUR TWITTER

OUR INSTAGRAM

Title 4

Isi konten 4

Title 5

Isi konten 5