KATA-KATA BIJAK DAN MOTIVASI

Senin, 15 Oktober 2012

Alfred Binet (1857-1911) : Pelopor Tes Intelegensia


Alfred Binet (1857-1911) merupakan salah satu pelopor dalam pengukuran inteligensi, seorang ahli psikologi berkebangsaan Perancis yang berpendapat bahwa inteligensi bersifat monogenetik, yaitu berkembang dari satu faktor satuan atau faktor umum (g) (Azwar, 2006). Sejak tahun 1904, Binet dan Henri telah memikirkan untuk mengembangkan metode obyektif guna menyeleksi anak-anak yang lambat mental, karena mereka dianggap memerlukan bantuan khusus dalam proses pendidikan. Keduanya menulis serangkaian karangan dalam L’Annee Psychologique.

Binet tidak memiliki teori inteligensi tertentu, tetapi ia bekerja di bidang tes-tes yang menunjukkan sampel tingkah laku anak dan membedakan kemampuan dari tingkat umur yang berbeda beda. Binet menemukan fakta bahwa pada setiap tingkat umur beberapa anak lebih baik dari anak lainnya. Anak yang paling pandai dalam tes disebut bright (pandai, cemerlang), sedangkan anak yang paling rendah dalam tes disebutnya miskin. Menurut Binet, inteligensi merupakan sisi tunggal dari karakteristik yang terus berrkembang sejalan dengan proses kematangan seseorang (Azwar, 2006).

Binet mendasarkan tesnya pada perbandingan anak tertentu dengan kelompok umur anak tersebut. Seorang anak yang berada di atas rata-rata dalam hal inteligensi dapat menjawab pertanyaan lebih banyak dari rata-rata anak dari kelompok umurnya. Apabila ia dapat mengerjakan/menjawab pertanyaan sama dengan kelompok umurnya maka ia dianggap memiliki inteligensi rata-rata. Anak yang performancenya di bawah rata rata dari kelompok umurnya maka ia dianggap memiliki inteligensi di bawah rata rata.

Dari paparan di atas nampak bahwa Binet menggunakan umur mental sebagai dasar untuk menentukan tingkat berfungsinya mental seorang anak. Seorang anak dapat memiliki umur 10 tahun, tetapi ia memiliki umur mental 11 tahun jika ia dapat menjawab pertanyaan yang dapat dijawab oleh kelompok anak yang berumur 11 tahun.

Di Amerika, tes Binet ini telah dikembangkan oleh Lewis Terman dari Universitas Stanford dan diberi nama Tes Stanford Binet. Tes ini dapat digunakan untuk semua anak yang mempunyai latar belakang berbeda beda. Tes ini biasa disebut kemampuan untuk memikirkan hal hal abstrak. Definisinya digunakan untuk dasar penyusunan item item tes.

Pada tahun 1904, Alfred Binet dan Theodor Simon, merancang suatu alat evaluasi yang dapat dipakai untuk mengidentifikasi siswa-siswa yang memerlukan kelas-kelas khusus (anak-anak yang kurang pandai). Alat tes itu dinamakan Tes Binet-Simon. Tes ini kemudian direvisi pada tahun 1911.

Tahun 1916, Lewis Terman, seorang psikolog dari Amerika mengadakan banyak perbaikan dari Tes Binet-Simon. Sumbangan utamanya adalah menetapkan indeks numerik yang menyatakan kecerdasan sebagai rasio (perbandingan) antara mental age dan chronological age. Hasil perbaikan ini disebut Tes Stanford-binet. Indeks seperti ini sebetulnya telah diperkenalkan oleh psikolog Jerman yang bernama William Stern, yang kemudian dikenal dengan Intelligence Quotient atau IQ. Tes Stanford-Binet ini banyak digunakan untuk mengukur kecerdasan anak-anak samapai usia 13 tahun.


Kelebihan dan Kelemahan Teori Binet

Salah satu reaksi atas teori yang dikembangkan oleh Binet adalah bahwa aspek yang diukur dalam tes yang berbasis teori Binet itu terlalu umum. Seorang ahli psikologi dan psikometri, Charles Spearman mengemukakan bahwa inteligensi tidak hanya terdiri dari satu faktor yang umum saja (General factor), tetapi juga terdiri dari faktor-faktor yang lebih spesifik. Teori ini disebut teori dua faktor (Two Factor Theory of Intelligence) yang telah dibahas pada artikel sebelumnya (Perkembangan Teori Inteligensi (1)). Alat tes yang kemmudian dikembangkan menurut teori faktor ini adalah WAIS (Wechsler Adult Intelligence Scale) untuk orang dewasa, dan WISC (Wechsler Intelligence Scale for Children) untuk anak-anak.

Sejarah menuliskan bahwa Binet merupakan seorang pemancang tonggak awal perkembangan tes-tes inteligensi modern di seluruh dunia. Binet membuat alat yang dirancang untuk mengukur ketajaman bayanganm ketahanan, kualitas perhatian, ingatan, kualitas penilaian moral dan estetika, serta kecakapan menemukan kesalahan logika serta memahami kalimat-kalimat yang termasuk dalam komponen-komponen umum berupa Arah, Adaptasi, dan Kritik dalam definisi inteligensi. Temuanya inilah yang menjadi dasar teori yang berkembang hingga menjadi faktor ganda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

POSTINGAN TERBARU

ARTIKEL-ARTIKEL :

OUR SOCIAL MEDIA

OUR FANPAGE FACEBOOK

OUR TWITTER

OUR INSTAGRAM

Title 4

Isi konten 4

Title 5

Isi konten 5